Eventing (Trilomba)

Eventing atau Trilomba adalah pertandingan kombinasi yang mengandalkan pengalaman penunggang dalam semua nomor berkuda. Kuda maupun penunggang, harus memiliki kecekatan dan serba bisa.

Pesertanya mengikuti pertandingan kombinasi yang terdiri dari tiga tes: dressage, cross-country – sebagai tes utama – dan jumping, dengan kuda yang sama selama pertandingan berlangsung. Hal itu tentunya membutuhkan kerjasama antara kedua atlit yang saling percaya, dan juga pelatihan yang terstruktur dan sistematis dalam semua disiplin tadi. Hanya pelatihan yang baik dan teratur menghasilkan atlit yang mahir dalam semua disiplin dan berstamina cukup untuk menghadapi pertandingan yang dinilai cukup berat ini.

 

Perhitungan trilomba dilakukan dalam sistem penalty points. Artinya, para peserta berusaha mendapatkan angka penalti sesedikit mungkin untuk mengungguli pertandingan yang pada umumnya berlangsung selama  satu (One Day Event) sampai tiga hari (Three Day Event). Tingkat kesulitan dibagikan dalam level One Star hingga Four Star Eventing. Bagi para penonton, menanti hasil pertandingan hari per hari atau tes demi tes sangat menegangkan, bagaikan hiburan mini seri di layar kaca.

 

Setelah diawali dengan inspeksi kesehatan kuda oleh dokter hewan, pertandingan Eventing selalu dimulai dengan Dressage Test. Walaupun terlihat sangat mudah, dressage adalah bagian pertandingan yang cukup sulit untuk para peserta eventing karena kuda yang sebenarnya dipersiapkan secara maksimal untuk menghasilkan power and speed pada tes-tes berikutnya, disini dituntut untuk tampil bagaikan penari, dengan gerakan yang hanya dapat dihasilkan secara baik apabila kuda cukup lentur. Disisi lain tes dressage tentunya memperlihatkan baik buruknya basic training, yaitu sebaik apa kuda dan penunggang terlatih dalam disiplin dasar berkuda.

Tes tunggang serasi terdiri dari berberapa gerakan yang telah ditentukan, yang dipertandingkan di sebuah arena yang berukuran 20×60 meter. Seperti dalam pertandingan tunggang serasi biasa, juri memberikan nilai pada setiap gerakan yang dilakukan masing-masing peserta, dan good points yang dikumpulkan itu dijadikan angka persentase. Hasil persentase rata-rata yang diperoleh masing-masing peserta dikurangi dari angka 100, kemudian dikali 1,5 untuk mendapatkan angka penalti yang akan dibawa oleh pesertanya ke babak kedua, yaitu cross-country, yang biasanya dilakukan keesok harinya.

 

Walaupun ketiga disiplin dalam trilomba sama pentingnya, fokus pertandingan adalah tes kedua, babak cross country atau rintangan alam, yang menguji kecepatan, keberanian, daya tahan dan kemampuan melompat si kuda serta keberanian dan kemampuan si penunggang. Cross country ini dinilai sebagai tes yang memiliki risiko tertinggi untuk kuda maupun penunggang, dan keduanya biasanya akan mengenakan perlengkapan pelindung seperti boots khusus untuk kuda dan body protector untuk penunggang. Mengenal risiko yang dihadapi peserta itu, adalah hal yang biasanya sangat menegangkan para penonton.

 

Menurut peraturan, test cross country terdiri dari empat fase: Fase A dan C: Roads and Tracks, fase B: Steeple-chase, dan fase D: Cross-country Obstacles. Pada One Day Event, fase B dan C tidak diikutsertakan dan fase A juga optional. One Day Event boleh diselenggarakan dalam 1, 2 atau 3 hari.

Pada umumnya, cross country terdiri dari 25-45 rintangan yang solid. Diantara rintangan biasanya juga ada salah satu dimana kuda harus melompat kedalam air. Panjang lintasan adalah antara 2.500m-7.410m di lapangan alam yang bergelombang. Tergantung fasenya, kecepatan kuda antara 220-690 meter per menit.

Apabila peserta melakukan kesalahan di rintangan, akan dikenakan penalti sebagai berikut: Pada rintangan yang sama, penolakan pertama, melewati atau melingkari rintangan: 20 penalti, kedua kali ditambah dengan 40 penalti, ketiga kali peserta tereliminasi. Pada fase D baru tersisihkan pada penolakan keempat (di rintangan yang berbeda). Apabila penunggang jatuh dari kuda pertama kali pada sebuah rintangan, dikenakan 65 penalti. Jatuh kedua kalinya atau apabila kuda jatuh, mengakibatkan peserta tereliminasi.

Berdasarkan panjang lintasan dan kecepatan kuda yang sudah ditentukan, juri mengkalkulasikan Optimum Time. Peserta yang menyelesaikan tes dengan waktu yang paling mendekati optimum time adalah yang terbaik, tetapi apabila telah melampaui optimum time, peserta akan dikenakan penalti, tergantung fase yang mana, antara 0,4 dan 1 penalti per detik.

Semua penalti tadi akan dibawa bersama penalti dari hasil tes dressage ke babak berikutnya, yaitu tes Jumping.

 

Tes Jumping berlangsung pada hari terakhir setelah kembali diadakan inspeksi kesehatan hewan. Maksud daripada tes jumping tersebut adalah membuktikan bahwa setelah melalui tes pertama dan kedua, kuda masih cukup gemulai dan bertenaga untuk melompati sebuah lintasan rintangan dengan panjang 350-600m berisi 10-16 rintangan show jumping dengan kecepatan 350-375 meter per menit. Peraturan yang berlaku adalah peraturan Showjumping, kecuali bahwa dalam eventing peserta boleh jatuh dari kuda satu kali yang akan dikenakan 8 penalti.

 

Setelah melalui semua tes diatas, peserta yang berhasil mendapatkan penalti paling kecil menjadi pemenang.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s