Larasati Iris Rischka Gading Gara-gara Kuda Tinggalkan Catwalk

larasati_gading_07.jpgWAJAH cantik Larasati Iris Rischka Gading, mantan model yang berkiprah di dunia berkuda, tersentak kaget menyaksikan karya Ugo Untoro bertajuk ’Poem of Blood’ di Galeri Nasional. Laras rupanya tak menduga bahwa karya-karya Ugo dalam pameran yang dibukanya itu, demikian memilukan. Yah maklum saja, sebagai pencinta kuda menyaksikan tragedi kehidupan kuda bahkan mati mengenaskan, terasa mengiris perasaannya, dan perutnya pun menjadi mules.

”Saya mencintai kuda, jadi menyaksikan karya-karya yang mengumbar kuda-kuda disiksa dan mati mengenaskan, rasanya bagaimana gitu,” ungkap wanita cantik ini. Kuda memang telah menjadi bagian hidup Laras sejak puluhan tahun lalu. Persisnya sejak kelas satu sekolah dasar, ibu tiga anak ini telah bersentuhan dengan kuda. ”Mungkin menurun dari buyut saya yang dari Jawa Tengah. Beliau kebetulan punya peternakan kuda. Namun mama lah yang mengenalkan saya dengan kuda. Mama saya sangat mencintai kuda,” tutur Laras saat berbincang dengan Tokoh pekan lalu.
Meski memiliki binatang peliharaan lain, namun Laras mengaku kuda memiliki tempat khusus di hatinya. Bisa jadi hal ini karena intensitas penanganan Laras terhadap kuda-kudanya demikian tinggi. Mulai melatih kuda, membersihkan, memeriksa kesehatan hingga pakan kuda, langsung ditanganinya. ”Kuda itu binatang sulit, tidak bisa dipelihara sambil lalu. Kita harus memperhatikannya, merawat dan memperhatikan makanannya. Semuanya terjadwal. Saya memang memiliki tenaga perawat kuda, tapi saya sendiri pun turun langsung,” tutur istri Ivan Gading ini. Keterlibatannya secara mendalam pada kuda-kudanya membuat ada ikatan emosional yang sulit dijelaskan antara dia dan kuda-kudanya. Maka tak heran ketika salah satu kuda kesayangannya, Nikolaus, mati karena sakit, Laras demikian terpukul. ”Rasa sedihnya luar biasa, saya sampai tak henti hentinya menangis. Bayangkan, tadinya Nikolaus sehat-sehat, tiba tiba dia sakit. Yang paling menyakitkan hati saat melihat Nikolaus berjuang di tengah sekarat. Saya berusaha memberinya semangat, tapi akhirnya Nikolaus tak mampu menahan sakit dan mati. Padahal kami sempat membawanya ke dokter dan ditangani di bagian gawat darurat,” papar Laras tentang kuda yang telah delapan tahun menemaninya. Bersama Nikolaus, Laras meraih berbagai prestasi di turnamen-turnamen berkuda, dalam dan luar negeri. Di antaranya menjuarai World Dressage Challenge Prix St. Georges, sebuah kompetisi berkuda internasional pada 2005 lalu.
Tak Punya Waktu
Kuda seolah telah menyita hampir sebagian besar waktunya. Sehingga boleh dibilang, Laras tidak punya waktu lagi untuk mengurus aktivitas lain selain keluarga dan kuda. Bahkan untuk dunia modeling yang membesarkannya pun Laras sudah tak punya waktu lagi. Sejak 1998, praktis Larasati telah mengurangi kegiatannya berlenggang lenggok di cat walk dan berkonsentrasi dalam olah raga berkuda. ”Sekarang permintaan naik pentas (cat walk) memang masih ada, tapi saya tak bisa kalau kembali sepenuhnya seperti dulu. Saya tak punya waktu lagi. Yah, sesekali saja saya masih mau, sekadar mengobati rasa rindu,” ujar wanita yang sempat membintangi sejumlah iklan ini.
Bicara tentang waktu, Laras menguraikan kalau hampir sebagian besar waktunya dihabiskan untuk urusan kuda. Mulai pagi pukul 06.00 hingga matahari terbenam. ”Pagi bangun tidur saya langsung ke kandang kuda, memeriksa segala sesuatunya, menggerak-gerakkan kuda. Saya juga melakukan latihan rutin. Meski tidak ada event, ini rutin saya lakukan. Setelah siang, saya ke kantor yang juga mengurusi kuda (peternakan hingga sekolah berkuda-red). Pokoknya, praktis hari-hari saya hanya untuk aktivitas yang berkaitan dengan kuda, sampai petang saya pulang ke rumah berkumpul dengan keluarga. Jadi memang saya tidak punya waktu lagi untuk aktivitas lain,” urai peraih medali perunggu SEA Games 2001. Bahkan saat libur, kalau tidak ada acara keluarga, dia pun menyambangi peternakan kudanya di Lembang. Atau pergi ke luar negeri untuk berlatih, khususnya dalam mempersiapkan diri menghadapi event-event internasional. ”Jadi rasanya untuk saat ini saya tidak mungkin memiliki kegiatan lain di luar kuda, sebab selain berlatih sendiri, juga menjadi pelatih serta mengurusi Gading Equestrian (semacam lembaga latihan ketangkasan berkuda-red). Saya juga punya tanggung jawab terhadap karyawan saya yang jumlahnya cukup banyak. Karena itu saya curahnya waktu saya sepenuhnya untuk urusana ini,” papar Laras yang memiliki 12 ekor kuda. Karena hobinya itu juga maka bisnis Laras pun tak jauh-jauh dari urusan berkaitan dengan kuda.
Bisnis Supplier Kuda
Sekarang ini dia bertindak sebagai supplier kuda. Jadi bagi mereka yang akan berlatih atau terjun dalam sebuah event, pihak Laras bertindak sebagai penyedia kuda. ”Usaha ini berawal dari kebutuhan sendiri yang dulu kadang mengalami kesulitan dalam pengadaan kuda. Kalau butuh kuda, kita suka minta supplier kirim, tapi kadang stok si supplier kosong. Akhirnya dari pada sulit terus menerus, saya pun berinisiatif menyediakan sendiri, sampai akhirnya kini berkembang menjadi 13 ekor yang sebagian di pelihara di Pulo Mas, Jakarta, dan Lembang, Bandung. Dalam perkembangannya, dari mulai memenuhi kebutuhan sendiri akhirnya berkembang menjadi bisnis supplier kuda seperti sekarang ini,” kata Laras yang tengah mempersiapkan diri untuk tampil dalam event kualifikasi berkuda SEA Games mendatang. Di usia 35 tahun sekarang ini, apa tidak merasa terlalu tua untuk terjun di event-event berkuda? Menjawab hal ini, Laras mengatakan, usia yang telah ’kepala 3’ tidak menjadi halangan bagi seorang atlet berkuda. Karena menjadi atlet berkuda, meski memang harus sehat, namun bukan berarti harus memiliki stamina yang tangguh. ”Kalau bertanding, yang justru kerja keras dan tangguh adalah kudanya. Sementara kita (atlet) yang dibutuhkan adalah ketrampilan teknik, sehingga bisa mengendalikan kuda,” tuturnya.
Seperti halnya sang ibu, Larasati pun sejak dini mengenalkan olah raga berkuda pada anak-anaknya. Dan ternyata ketiganya sangat berminat. Bahkan anak tertuanya, Alyssa Gading, telah berkali-kali menjadi juara beberapa event. ”Anak pertama sudah terjun di event, sedang anak kedua baru mulai berlatih, anak ketiga masih kecil tapi dia sudah menunjukkan kecintaannya pada kuda,” tuturnya.
Ngomong-ngomong, berkuda kerap diidentikan dengan olahraga mahal, apa benar begitu?
Menurut Laras, biaya menekuni hobi berkuda relatif. Harga kuda lokal antara Rp 2 juta hingga Rp 10 juta, sedang kuda impor atau yang sudah jadi, bisa mencapai ratusan juta rupiah. Namun ujarnya, seorang yang menekuni olah raga ini tidak harus memiliki kuda sendiri. Atlet nasional pun ada yang tak memiliki kuda, katanya. Selain harganya relatif mahal, memelihara kuda sendiri juga biayanya cukup tinggi, selain membutuhkan ketekunan tersendiri. Dari segi makanan berbeda, kalau kuda bertanding gizi harus diperhatikan, ungkapnya. —dia

Terapi Autis dengan Berkuda

TERNYATA olah raga berkuda bisa juga digunakan untuk terapi bagi penderita autis. Sebenarnya terapi berkuda untuk penderita autis bukan hal yang baru karena hal ini telah dilakukan di luar negeri.. Hal inipun diakui Larasati yang sempat lama tinggal di Jerman. Kebetulan, tuturnya, beberapa di antara murid-murid berkudanya ada yang menyandang autis. Maka ia pun mencoba menerapkan terapinya melalui interaksi si anak autis dengan kuda. Saya coba bukan dari segi olahraganya, tapi psikologisnya, interaksi dengan kuda, hewan yang menurut saya sangat peka, jelasnya pada Tokoh. Dikatakan Laras, salah satu yang perlu dipahami tentang kuda adalah interaksi awal antara kuda dan calon penumpangnya. Nah, salah satu masalah penyandang autis adalah kesulitan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Maka dengan melatih si anak berinteraksi dengan kuda, secara tidak langsung juga menerapi si anak. ”Pada awalnya si anak akan diajarkan untuk menyapa kuda dan mengelus badan kuda, baru anak menaiki sadel kuda,” jelasnya. ”Memang ini semua juga berpulang pada orangtua masing-masing. Biasanya untuk mendapat hasil maksimal, ya, harus sering berlatih. Dari pengalaman saya, sebagaimana yang diakui oleh para orangtua murid, ada kemajuan sikap si anak setelah kerap berlatih. Biasanya sih, perubahan sudah bisa terasa setelah satu kali berlatih,” tuturnya. Namun demikian Laras tidak bisa memastikan sampai berapa lama terapi tersebut harus dijalankan untuk mendapat hasil maksimal. ”Yah itu agak sulit ya, relatif sifatnya. Karena banyak faktor pendukung agar upaya terapi tersebut bisa berhasil. Salah satunya rutinitas serta dukungan orangtua,” tuturnya. (cybertokoh.com)

3 Comments

  1. mba,mas…saya minta cp Larasati dong…? sbg nara sumber rubrik olahraga berkuda di edisi depan Tabloid saya..
    Best Regrads,
    imel

  2. mba larasati saya penggemar kuda di palangkaraya-kalteng, saya minta dikirim buku tentang cara merawat kuda. ini alamat saya : dinas peternakan,perikanan dan peternakan kota palangka raya, jalan tjilik riwut km 7,8,palangka raya -kalimantan tengah,Hp(085249060955)

  3. sy salut dgn bu laras, sebgai pecinta kuda,saya hanya mau kasih info,bahwa ada pelukis SL umbu karya lukisannya gambar kuda sangat bagus nanti februari 2009 ada dilelang di treasure jakarta,smoga olah raga dan pecinta kuda terus meningkat baik kwalitas maupun kwantitas.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s