Menunggu Rekomendasi Bapak Gubernur

MENUNGGU sekian lama, impian Pengurus Daerah Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia Jawa Barat tentang sarana latihan beruda yang memadai mulai menunjukkan titik terang.  Setelah terkatung-katung kurang lebih dua tahun, surat izin yang diperlukan sebentar lagi ada di genggaman.

Sebagai cabang olahraga yang kurang terkenal, diam-diam cabang berkuda memberikan kontribusi signifikan pada prestasi Jabar di PON XVI Palembang. Saat itu, cabang berkuda mampu menyumbang lima emas dari total 76 medali terbaik yang dikumpulkan Jabar.

Prestasi maksimal juga ingin diberikan tim berkuda di PON XVII Kalimantan Timur. Apalagi, peluang sudah di depan mata mengingat empat atlet berkuda Jabar, yakni Endaryanto Bambang, Dikie Mardyanto, Asep Mulyawan, dan Andri Prasetiono tergabung di pemusatan latihan nasional SEA Games 2007.

Babak kualifikasi pun sudah dilalui. Atlet-atlet Jabar sudah dipastikan lolos dalam tiga nomor yang akan dipertandingkan, yakni tunggang serasi (dressage), lompat rintangan (show jumping), dan eventing. “Kita optimis bisa kembali memberikan hasil terbaik. Namun, tentu saja, untuk itu butuh sarana berlatih yang memadai,” ujar Wakil Sekretaris Umum Pengda Pordasi Jabar, Jejen Rusyana Diyan.

Untuk maksud ini, Pengda Pordasi Jabar sama sekali tidak membebani Pemerintah Provinsi  maupun KONI Jabar dalam hal pembiayaan. Sebab, klub Aswatama, sebagai tempat bernaung para atlet andalan Jabar memiliki keinginan untuk membangunnya secara swadaya. Tanah seluas kurang lebih 50 hektar di Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung sudah dipersiapkan sebagai calon lokasi.

Sayang, sejak diajukan kurang lebih dua tahun silam, izin pembangunan tak juga didapatkan. Alasan yang muncul adalah karena sarana latihan dibangun di kawasan Bandung Utara yang merupakan daerah konservasi. Namun, Ketua Umum Pengda Pordasi Jabar, Letkol Kavaleri Ahmad Saefudin menengarai ada sebab lain. “Urusan birokrasinya lama sekali,” kata Ahmad.

Padahal, kata Ahmad, pembangunan sarana latihan tidak menggganggu konservasi. “Hanya sedikit saja tanah yang ditutup bangunan. Selebihnya adalah ruangan terbuka,” kata Ahmad yang mengaku gemas dengan lambatnya proses perizinan.

Pemilik klub Aswatama, Lina Arto Hardy juga menyatakan kegemasan serupa. “Kami berniat membangun sesuatu yang positif. Selain itu, saya juga ingin para atlet bisa mandiri. Sayang kalau keahlian mereka tidak bermanfaat maksimal. Kalau punya tempat sendiri, mereka bisa saja menjadi guru bagi murid-murid yang ingin serius menggeluti olahraga berkuda. Tidak seperti sekarang ini, mereka terus berlatih tetapi juga tetap bergantung pada klub “ ujar Lina.

Kini harapan mereka mendekati kenyataan ketika Bupati Bandung, Obar Sobarna, sudah melayangkan surat pada Gubernur Jabar, Danny Setiawan. Surat izin pembangunan akan keluar mulus dari Pemkab Bandung asal ada surat rekomendasi dari Gubernur Jabar. “Semakin cepat semakin baik. Jika pembangunan bisa dimulai bulan Agustus, tempat latihan bisa dipakai untuk persiapan PON 2008,” kata Ahmad.

Upaya seperti ini patut diapresiasi di tengah minimnya pembangunan sarana olahraga oleh pemerintah. Bahkan, bukannya membangun, kebijakan pemerintah justru banyak mengurangi sarana oahraga.

 

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s