Menunggu Rekomendasi Bapak Gubernur

MENUNGGU sekian lama, impian Pengurus Daerah Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia Jawa Barat tentang sarana latihan beruda yang memadai mulai menunjukkan titik terang.  Setelah terkatung-katung kurang lebih dua tahun, surat izin yang diperlukan sebentar lagi ada di genggaman.

Sebagai cabang olahraga yang kurang terkenal, diam-diam cabang berkuda memberikan kontribusi signifikan pada prestasi Jabar di PON XVI Palembang. Saat itu, cabang berkuda mampu menyumbang lima emas dari total 76 medali terbaik yang dikumpulkan Jabar.

Prestasi maksimal juga ingin diberikan tim berkuda di PON XVII Kalimantan Timur. Apalagi, peluang sudah di depan mata mengingat empat atlet berkuda Jabar, yakni Endaryanto Bambang, Dikie Mardyanto, Asep Mulyawan, dan Andri Prasetiono tergabung di pemusatan latihan nasional SEA Games 2007.

Babak kualifikasi pun sudah dilalui. Atlet-atlet Jabar sudah dipastikan lolos dalam tiga nomor yang akan dipertandingkan, yakni tunggang serasi (dressage), lompat rintangan (show jumping), dan eventing. “Kita optimis bisa kembali memberikan hasil terbaik. Namun, tentu saja, untuk itu butuh sarana berlatih yang memadai,” ujar Wakil Sekretaris Umum Pengda Pordasi Jabar, Jejen Rusyana Diyan.

Untuk maksud ini, Pengda Pordasi Jabar sama sekali tidak membebani Pemerintah Provinsi  maupun KONI Jabar dalam hal pembiayaan. Sebab, klub Aswatama, sebagai tempat bernaung para atlet andalan Jabar memiliki keinginan untuk membangunnya secara swadaya. Tanah seluas kurang lebih 50 hektar di Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung sudah dipersiapkan sebagai calon lokasi.

Sayang, sejak diajukan kurang lebih dua tahun silam, izin pembangunan tak juga didapatkan. Alasan yang muncul adalah karena sarana latihan dibangun di kawasan Bandung Utara yang merupakan daerah konservasi. Namun, Ketua Umum Pengda Pordasi Jabar, Letkol Kavaleri Ahmad Saefudin menengarai ada sebab lain. “Urusan birokrasinya lama sekali,” kata Ahmad.

Padahal, kata Ahmad, pembangunan sarana latihan tidak menggganggu konservasi. “Hanya sedikit saja tanah yang ditutup bangunan. Selebihnya adalah ruangan terbuka,” kata Ahmad yang mengaku gemas dengan lambatnya proses perizinan.

Pemilik klub Aswatama, Lina Arto Hardy juga menyatakan kegemasan serupa. “Kami berniat membangun sesuatu yang positif. Selain itu, saya juga ingin para atlet bisa mandiri. Sayang kalau keahlian mereka tidak bermanfaat maksimal. Kalau punya tempat sendiri, mereka bisa saja menjadi guru bagi murid-murid yang ingin serius menggeluti olahraga berkuda. Tidak seperti sekarang ini, mereka terus berlatih tetapi juga tetap bergantung pada klub “ ujar Lina.

Kini harapan mereka mendekati kenyataan ketika Bupati Bandung, Obar Sobarna, sudah melayangkan surat pada Gubernur Jabar, Danny Setiawan. Surat izin pembangunan akan keluar mulus dari Pemkab Bandung asal ada surat rekomendasi dari Gubernur Jabar. “Semakin cepat semakin baik. Jika pembangunan bisa dimulai bulan Agustus, tempat latihan bisa dipakai untuk persiapan PON 2008,” kata Ahmad.

Upaya seperti ini patut diapresiasi di tengah minimnya pembangunan sarana olahraga oleh pemerintah. Bahkan, bukannya membangun, kebijakan pemerintah justru banyak mengurangi sarana oahraga.

 

Advertisements

Olahraga Berkuda untuk Pemula

Olahraga berkuda adalah olahraga yang ideal untuk dinikmati bersama dengan seluruh keluarga. Balita pun sudah dapat menikmati berkuda kalau ia menunggang kuda poni yang dituntun, dan mulai usia 5-6 tahun anak-anak sudah dapat belajar menunggang sendiri. Bagi remaja olahraga berkuda juga sangat menarik, dan dewasa sampai usia lanjut pun dapat menemukan kesenangan dengan mitra berkaki empat itu. Ada penunggang yang berkuda hanya sebagai hobby belaka, ada juga yang memiliki ambisi untuk berprestasi dalam olahraga yang sangat beraneka ragam ini. Bagaimanakah caranya menjadi penunggang kuda?

 

Biasanya, minat berkuda muncul ketika anak-anak masih berusia balita atau sewaktu SD. Kalau ada kesempatan berkuda, misalnya di tempat-tempat wisata seperti kebun binatang, daerah pegunungan dan lain-lain, anak-anak pasti ingin mencobanya. Anak-anak pada umumnya menikmati mainan yang bergerak dalam berbagai bentuk, sebut saja komedi putar atau ayunan. Tetapi dengan kuda, mereka juga berkesempatan untuk berinteraksi dengan hewan yang memberikan respons, dan sifat berani dan percaya diri si anak biasanya juga mendapatkan sambutan positif dari orang tua dan keluarga. Anak-anak memiliki bakat alam untuk menunggang karena lebih luwes dan lentur, cepat menyesuaikan diri dan dapat mengikuti ayunan kuda dengan mudah.

Minat berkuda bukan hanya timbul pada anak-anak, tetapi juga pada dewasa, walaupun dengan alasan yang berbeda. Yang sering terjadi adalah bahwa orang tua dari anak yang sedang belajar berkuda menjadi ikut tertarik, atau bahwa dewasa hanya ingin menjadikan impian masa kanak-kanak, merasakan freedom, power and grace, sebuah kenyataan.

 

Seperti setiap olahraga lainnya, berkuda memiliki faktor resiko. Oleh karena itu sangat dianjurkan untuk belajar teknik berkuda dengan benar, supaya dapat mengendalikan kuda dalam setiap situasi. Teknik yang baik dan benar juga memberikan kenyamanan yang lebih baik bagi penunggangnya dan menjadikan berkuda sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan.

 

Di berbagai daerah ada sarana atau sekolah-sekolah berkuda yang menyediakan fasilitas untuk belajar menunggang kuda. Saat ini pada federasi nasional tercatat sekitar 25 klub berkuda.

Sebagai info: sebaiknya jangan menghubungi sekolah berkuda pada hari Senin, karena untuk tempat berkuda di seluruh dunia hari Senin adalah hari libur!

 

Selain fasilitas lapangan yang sesuai standar, tentunya diperlukan kuda-kuda sekolah yang telah terlatih untuk ditunggang oleh pemula, dan juga pelatih yang berpengalaman.

Perlengkapan awal untuk penunggang adalah helm berkuda (bila perlu dipinjamkan pihak sekolah), celana panjang (kalau bisa jangan terlalu longgar karena mudah terjepit) dan sepatu dengan sedikit hak, sebaiknya setinggi mata kaki. Kalau ingin melanjutkan dan untuk kenyamanan penunggang, dianjurkan untuk memiliki helm, sarung tangan, celana dan boots berkuda.

Sebaiknya berlatih 2-3 kali per minggu. Selain belajar teknik menunggang, pemula juga diperkenalkan dengan horsemanship, yaitu bagaimana berinteraksi dengan kuda, cara merawat kuda dan pemasangan alat tunggang seperti pelana, kendali dan lain-lain.

Pada tahap awal belajar menunggang, pemula akan dilongser selama kira-kira 30 menit. Longser atau lunging adalah berlatih mengelilingi pelatih yang mengendalikan kuda dengan tali panjang sekitar 7 meter yang disambungkan ke bagian mulut (mouthpiece) kuda. Dengan cara itu, pemula dapat berkonsentrasi kepada dirinya sendiri dan tidak perlu risaukan kudanya.

Yang diajarkan pertama adalah cara duduk yang benar, menemukan keseimbangan badan dalam setiap cara gerak kuda (walk, trot, canter) dan bagaimana memberikan pertolongan kepada kuda untuk mengendalikannya. Pada prinsipnya, kuda digerakkan dengan betis dan dihentikan dengan kendali, tetapi cara duduk dan suara si penunggang juga dikategorikan sebagai pertolongan.

Tergantung bakat si penunggang, akan dilongser sebanyak kurang-lebih empat kali latihan, kemudian dilepas untuk latihan tanpa tali longser. Waktu latihan juga lebih lama, yaitu sekitar 45 menit. Kalau sudah dapat menemukan keseimbangan dan mengendalikan kuda dengan baik, pola latihan juga semakin intensif dan pada akhirnya penunggang dapat mengikuti pertandingan. Setelah beberapa waktu berlatih berkuda, terlihat ke mana bakat dan minat si penunggang mengarah. Penunggang yang senang berkuda secara tenang dan halus biasanya memilih Dressage, sementara yang lebih berani dan yang mencari action akan mengarah ke Showjumping. Yang senang berwisata biasanya memilih Endurance, dan yang punya bakat untuk berbagai nomor mengarah ke Eventing.

 

Walaupun tidak harus memiliki kuda sendiri, pada suatu saat seorang penunggang pasti mempertimbangkan ide itu. Menemukan kuda yang jodoh dengan penunggang dan dapat menunjang kegiatan berkudanya bukanlah hal yang begitu mudah. Memiliki seekor kuda juga merupakan sebuah tanggung jawab yang sangat besar!

 

Perjalanan seorang penunggang pemula hingga menjadi atlit hanyalah melalui prestasi yang diraihnya. Semakin baik prestasinya, semakin baik pula materi atau kuda yang dapat ditunggangnya.

Tanpa membedakan gender dan kalangan, dan apakah seorang penunggang memilih berkuda tetap sebagai amatir atau sebagai penunggang professional hingga pelatih, semua dapat berpartisipasi dan menikmati olahraga yang beraneka ragam ini. (Sumber – ECI)

 

 

Endurance

Endurance merupakan kompetisi melawan waktu untuk menguji kecepatan dan kemampuan ketahanan kuda, yang sekaligus diharapkan dapat menunjukkan pengetahuan si penunggang mengenai kecepatan dan penggunaan kudanya melalui lintas alam. Prestasi kuda yang ditunjukkan melalui berbagai macam permukaan dan halangan alam sangatlah penting untuk menentukan kepandaian berkuda si penunggang dan sikap kudanya sendiri.

 

Sebuah kompetisi terdiri dari berberapa tahap. Setelah setiap tahap (pada prinsipnya setiap 40 km), diadakan sebuah inspeksi kesehatan hewan yang diatur sebagai gerbang veteriner yang menuju kawasan pemberhentian yang diambil waktunya (waktunya terhitung dari saat detak jantung kuda menunjukkan 64 detak/ menit; sampai saat itu waktu dianggap sebagai waktu menunggang). Tahap-tahap endurance dapat berlangsung hingga dua hari atau lebih.

 

Perjalanannya tidak boleh mengandung lebih dari 10 persen permukaan jalanan keras. Bagian yang lebih sulit sebaiknya tidak terdapat di bagian akhir kompetisi.

 

Untuk kompetisi yang berlangsung lebih dari satu hari, rata-rata jarak minimum untuk pertandingan internasional biasa adalah 80 km dan dalam pertandingan resmi 100 km. Untuk kejuaraan satu hari, jaraknya biasanya 160 km dengan waktu tempuh sekitar sepuluh sampai duabelas jam.

 

 

Endurance race adalah semacam Pacuan Marathon Berkuda dimana seorang penunggang bersama seekor kuda menempuh jarak jauh (antara 20 km “Baby Race” sampai 160 km/ hari atau 2 hari à 100 km) dalam waktu sesingkat-singkatnya. Adapun titik pemberhentian yang ditentukan untuk minum (Water Point), inspeksi dan istirahat kuda. Peserta dibantu oleh tim pendukung atau Crew yang terdiri dari dua orang yang mengurusi kuda dan satu pengemudi kendaraan pendukung.

Yang penting adalah menjaga kondisi kuda agar ia dapat lulus pemeriksaan tim dokter hewan dimana detak jantung kuda tidak boleh melampaui 64 detak/ menit, kuda tidak boleh pincang, dehidrasi, anemia, kulit lecet/ sensitive dan kram atau kolik. Kuda yang menunjukkan tanda kelelahan dan kiranya kesehatannya terancam apabila ia melanjutkan pacuan, dieliminasi oleh tim veteriner dan keputusan mereka tidak dapat diganggu gugat.

Peserta yang menyelesaikan pacuan dalam waktu tersingkat dan dengan kuda berkondisi baik hingga 2 jam setelah pacuan berhenti dinyatakan menang. 

 

Endurance dinilai sangat cocok untuk masyarakat berkuda Indonesia karena beberapa faktor, antara lain: 

          relatif rendah biaya dan membutuhkan fasilitas minim

          kuda apa saja dapat mengikutinya asal sehat

          kuda Indonesia, terutama asal Padang sangat cocok untuk jenis olahraga ini yang menuntut ketahanan dan stamina kuda yang baik

          tidak memerlukan kuda bersilsilah, peralatan canggih atau mahal

          kemampuan ekuestrian tidaklah harus terlalu tinggi sehingga pemula segala umur pun dapat ikut serta asalkan ia dapat mengontrol   kuda

          kita berpeluang besar untuk mendapatkan tempat di peta berkuda internasional


Dengan bangga ECI dapat mengumumkan bahwa disiplin berkuda yang masih muda, yaitu Endurance telah diperkenalkan dan dipertandingkan di Indonesia. Pada tahun 2001 atau tepatnya beberapa bulan sebelum SEA Games XXI Kuala Lumpur, Winson Pola mempelajari bidang Endurance dan mewakili Indonesia bersama Surmin dan cadangan Yudi Irianto di ajang bergengsi tersebut. Yudi sempat memperdalami Endurance di Trijaya Jerudong Equestrian Center Brunei Darussalam, dan kecintaan Winson kepada Endurance ini telah membawanya ke mancanegara seperti Malaysia dan Uni Emirates Arab dimana ia dapat menjalin hubungan erat dengan para pakar dan penunggang-penunggang terbaik dunia.

Selain pengembangan penunggang, bidang ini juga memberikan kesempatan untuk pengembangan ofisial. Misalnya dokter hewan, dapat mengikuti FEI Endurance Vet Clinic dan kiranya menjadi ofisial yang sangatlah penting untuk Endurance.

Eventing (Trilomba)

Eventing atau Trilomba adalah pertandingan kombinasi yang mengandalkan pengalaman penunggang dalam semua nomor berkuda. Kuda maupun penunggang, harus memiliki kecekatan dan serba bisa.

Pesertanya mengikuti pertandingan kombinasi yang terdiri dari tiga tes: dressage, cross-country – sebagai tes utama – dan jumping, dengan kuda yang sama selama pertandingan berlangsung. Hal itu tentunya membutuhkan kerjasama antara kedua atlit yang saling percaya, dan juga pelatihan yang terstruktur dan sistematis dalam semua disiplin tadi. Hanya pelatihan yang baik dan teratur menghasilkan atlit yang mahir dalam semua disiplin dan berstamina cukup untuk menghadapi pertandingan yang dinilai cukup berat ini.

 

Perhitungan trilomba dilakukan dalam sistem penalty points. Artinya, para peserta berusaha mendapatkan angka penalti sesedikit mungkin untuk mengungguli pertandingan yang pada umumnya berlangsung selama  satu (One Day Event) sampai tiga hari (Three Day Event). Tingkat kesulitan dibagikan dalam level One Star hingga Four Star Eventing. Bagi para penonton, menanti hasil pertandingan hari per hari atau tes demi tes sangat menegangkan, bagaikan hiburan mini seri di layar kaca.

 

Setelah diawali dengan inspeksi kesehatan kuda oleh dokter hewan, pertandingan Eventing selalu dimulai dengan Dressage Test. Walaupun terlihat sangat mudah, dressage adalah bagian pertandingan yang cukup sulit untuk para peserta eventing karena kuda yang sebenarnya dipersiapkan secara maksimal untuk menghasilkan power and speed pada tes-tes berikutnya, disini dituntut untuk tampil bagaikan penari, dengan gerakan yang hanya dapat dihasilkan secara baik apabila kuda cukup lentur. Disisi lain tes dressage tentunya memperlihatkan baik buruknya basic training, yaitu sebaik apa kuda dan penunggang terlatih dalam disiplin dasar berkuda.

Tes tunggang serasi terdiri dari berberapa gerakan yang telah ditentukan, yang dipertandingkan di sebuah arena yang berukuran 20×60 meter. Seperti dalam pertandingan tunggang serasi biasa, juri memberikan nilai pada setiap gerakan yang dilakukan masing-masing peserta, dan good points yang dikumpulkan itu dijadikan angka persentase. Hasil persentase rata-rata yang diperoleh masing-masing peserta dikurangi dari angka 100, kemudian dikali 1,5 untuk mendapatkan angka penalti yang akan dibawa oleh pesertanya ke babak kedua, yaitu cross-country, yang biasanya dilakukan keesok harinya.

 

Walaupun ketiga disiplin dalam trilomba sama pentingnya, fokus pertandingan adalah tes kedua, babak cross country atau rintangan alam, yang menguji kecepatan, keberanian, daya tahan dan kemampuan melompat si kuda serta keberanian dan kemampuan si penunggang. Cross country ini dinilai sebagai tes yang memiliki risiko tertinggi untuk kuda maupun penunggang, dan keduanya biasanya akan mengenakan perlengkapan pelindung seperti boots khusus untuk kuda dan body protector untuk penunggang. Mengenal risiko yang dihadapi peserta itu, adalah hal yang biasanya sangat menegangkan para penonton.

 

Menurut peraturan, test cross country terdiri dari empat fase: Fase A dan C: Roads and Tracks, fase B: Steeple-chase, dan fase D: Cross-country Obstacles. Pada One Day Event, fase B dan C tidak diikutsertakan dan fase A juga optional. One Day Event boleh diselenggarakan dalam 1, 2 atau 3 hari.

Pada umumnya, cross country terdiri dari 25-45 rintangan yang solid. Diantara rintangan biasanya juga ada salah satu dimana kuda harus melompat kedalam air. Panjang lintasan adalah antara 2.500m-7.410m di lapangan alam yang bergelombang. Tergantung fasenya, kecepatan kuda antara 220-690 meter per menit.

Apabila peserta melakukan kesalahan di rintangan, akan dikenakan penalti sebagai berikut: Pada rintangan yang sama, penolakan pertama, melewati atau melingkari rintangan: 20 penalti, kedua kali ditambah dengan 40 penalti, ketiga kali peserta tereliminasi. Pada fase D baru tersisihkan pada penolakan keempat (di rintangan yang berbeda). Apabila penunggang jatuh dari kuda pertama kali pada sebuah rintangan, dikenakan 65 penalti. Jatuh kedua kalinya atau apabila kuda jatuh, mengakibatkan peserta tereliminasi.

Berdasarkan panjang lintasan dan kecepatan kuda yang sudah ditentukan, juri mengkalkulasikan Optimum Time. Peserta yang menyelesaikan tes dengan waktu yang paling mendekati optimum time adalah yang terbaik, tetapi apabila telah melampaui optimum time, peserta akan dikenakan penalti, tergantung fase yang mana, antara 0,4 dan 1 penalti per detik.

Semua penalti tadi akan dibawa bersama penalti dari hasil tes dressage ke babak berikutnya, yaitu tes Jumping.

 

Tes Jumping berlangsung pada hari terakhir setelah kembali diadakan inspeksi kesehatan hewan. Maksud daripada tes jumping tersebut adalah membuktikan bahwa setelah melalui tes pertama dan kedua, kuda masih cukup gemulai dan bertenaga untuk melompati sebuah lintasan rintangan dengan panjang 350-600m berisi 10-16 rintangan show jumping dengan kecepatan 350-375 meter per menit. Peraturan yang berlaku adalah peraturan Showjumping, kecuali bahwa dalam eventing peserta boleh jatuh dari kuda satu kali yang akan dikenakan 8 penalti.

 

Setelah melalui semua tes diatas, peserta yang berhasil mendapatkan penalti paling kecil menjadi pemenang.

Lompat Rintangan (Show Jumping)

Melompat rintangan adalah hal yang biasa dilakukan oleh kuda-kuda di alam bebas ketika mereka menghindar atau lari dari pemangsa. Zebra di kebun binatang juga terlihat melompati pohon tumbang dan rintangan lain untuk kesenangan mereka. Kemampuan lompat rintangan seekor kuda ketangkasan antara lain tergantung bakatnya dan membutuhkan pelatihan yang sesuai dan secara bertahap untuk mengajarkan teknik yang baik. Lompat rintangan melengkapi pendidikan dasar si penunggang maupun seekor kuda tunggang, dan pada umumnya latihan jumping dijadwalkan sebanyak dua atau tiga kali dari enam hari latihan per minggu.  

Nomor olahraga berkuda Showjumping atau Lompat Rintangan berasal dari kegemaran para penunggang Irlandia pada zaman dahulu. Karena tanah pertanian mereka sangat luas dan infrastruktur di „pulau hijau“ itu saat itu masih minim, mereka sering „potong jalan“ dengan melompati pagar, tembok dan rintangan alam yang membatasi dan memisahkan tanah-tanah pertanian mereka. Kebiasaan itu kemudian berkembang dan menjadi sebuah kompetisi tersendiri. Pada tahun 1752, kompetisi jenis Steeplechase pertama diselenggarakan. 

Pada kompetisi showjumping yang kita kenal sekarang, tujuan utama adalah menyelesaikan course atau lintasan yang telah ditentukan tanpa menjatuhkan rintangan. Course designer merancang lintasan yang berbeda untuk setiap pertandingan showjumping, dan dapat menyesuaikan tingkat kesulitan lintasan dengan jenis atau level pertandingan. Panjang lintasan minimal 150m, maksimal 1200m. Luas arena standar internasional adalah 90×45 meter, dengan alas/ ground pasir atau rumput.

Jenis rintangan merupakan rintangan lompat tinggi (misalnya vertical, upright, wall,  dengan tinggi maksimal 1,60m), lompat jauh (water jump, dengan lebar 2,5m sampai 4,5m) dan tinggi-jauh (oxer, triple-bar, tinggi maksimal 1,60m, lebar maksimal 2m dan 2,20m), dan rintangan-rintangan tersebut dapat berdiri sendiri atau digabungkan dalam kombinasi yang terdiri dari dua sampai tiga rintangan dengan jarak diantara dua rintangan minimal 6,5m dan maksimal duabelas meter.

Poles atau batang kayu/ dolken dengan panjang 3,5m atau 4m, berdiameter +/- 10cm, diletakkan pada cups  yang dipasang di sayap rintangan dan dapat jatuh apabila tersentuh kaki kuda.

Masing-masing rintangan diberikan nomor, dan arah melompat ditandakan dengan dua bendera yang dipasang di atas sayap rintangan, sebelah kanan merah dan sebelah kiri putih.

Peta lintasan atau course plan dipajang di papan informasi pertandingan. 

Sebelum bertanding, para penunggang berbusana pertandingan lengkap, terkadang bersama pelatih, menjalankan lintasan terlebih dahulu. Hal tersebut membantu penunggangnya untuk menghafalkan urutan rintangan dan mengukur jarak diantara rintangan guna menentukan strategi yang diambil untuk menyelesaikan lintasan sebaik-baiknya. Walaupun lintasan dibangun dengan ukuran metrik, yang dihitung pada saat walk the course adalah langkah penunggang empat banding satu, yaitu empat langkah penunggang sama dengan satu langkah atau stride kuda. Sebagai contoh: Dalam ukuran metrik jarak diantara dua rintangan misalnya merupakan sepuluh sampai sebelas meter. Kalau jarak yang diukur oleh penunggang adalah duabelas langkah, duabelas dikurangkan empat langkah untuk landing sama dengan delapan langkah atau dua stride kuda. 

Kebanyakan tipe kompetisi lompat rintangan mengandalkan kecepatan – ketepatan – kegesitan: tim penunggang-kuda harus mengatasi lintasan dengan 6 sampai 14 rintangan, dalam waktu tertentu, dengan kesalahan minimal.

Buku peraturan lompat rintangan cukup tebal, tetapi sebagai informasi dasar kami akan mengulas beberapa peraturan utama: Apabila seorang kompetitor melakukan kesalahan seperti menjatuhkan sebuah rintangan, menolak atau melebihi waktu yang diperbolehkan ia dikenakan faults atau angka kesalahan. Untuk setiap rintangan yang jatuh, dikenakan empat faults, begitu pula kalau kuda menyentuh air di water jump dan untuk penolakan. Peserta hanya diperbolehkan menolak satu kali. Pada penolakan kedua, judge bunyikan lonceng yang menandakan bahwa pesertanya eliminated atau tersisihkan dari putaran yang sedang dijalankan. Eliminasi juga terjadi apabila penunggang melompati rintangan sebelum lonceng menandakan start, apabila kuda enggan melewati garis start atau finish, dan kalau melompati rintangan yang salah atau dari arah yang salah. Jatuh dari kuda dan jatuh bersama kuda, juga menyebabkan eliminasi.

Untuk melebihi waktu yang diperbolehkan (time allowed), faults diberikan per satuan detik, tergantung tipe kompetisi. Waktu yang diperbolehkan didapatkan dari perhitungan panjang lintasan dengan speed atau kecepatan yang bervariasi antara 300m/ menit hingga 400m/ menit. Batas waktu (time limit) adalah dua kalinya waktu yang diperbolehkan, dan melewatinya menyebabkan eliminasi juga. 

Pemenang kompetisi adalah ia yang memiliki angka kesalahan yang paling kecil, dapat meyelesaikan lintasannya dalam waktu tercepat atau mengumpulkan point tertinggi, tergantung daripada tipe kompetisi. Salah satu jenis kompetisi lain adalah puissance atau adu lompat tinggi, dimana tinggi rintangan dapat mencapai dua meter lebih, atau kompetisi lompat jauh. 

Apapun jenis kompetisinya, showjumping selalu membuat para penonton tegang. Keaneka ragaman dan variasi kompetisi menambahkan segi atraksi baik untuk kompetitor maupun penonton.

Sumber:www.equestrian-indonesia.org

Dressage/ Tunggang Serasi

Dressage adalah dasar semua pelatihan kuda dan dibutuhkan untuk semua nomor ketangkasan, tetapi dressage juga dinilai sebagai „Master“ berkuda karena nilai seni tinggi yang dimilikinya.

Tujuan  Dressage atau Tunggang Serasi adalah pengembangan fisik kuda dan keserasian penunggang dengan kuda. Keterampilan dan mutu yang baik terlihat dari ayunan langkah yang bebas dan sama rata, seolah kuda bergerak mudah dan tanpa beban. Kudanya memberi kesan bahwa ia melakukan semua gerakan dengan sendiri, karena pertolongan yang ringan dari penunggang tidak dapat terlihat lagi.

Dalam semua kompetisi, kuda harus menunjukkan tiga cara berjalan: Walk, Trot dan Canter, dan juga transisi dari dan ke berlainan cara berjalan dan dalam cara berjalan sendiri (collection – extension – collection).

Adapun tes dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Tes tingkat mudah mencakup gerakan seperti Halt (berhenti), Rein-Back (mundur), lingkaran kecil, Walk-Pirouette (berputar di tempat) dan gerakan menyamping. Tingkat sedang juga mencakup flying changes (ganti kaki di udara) di canter. Dalam tingkat Grand-Prix, yaitu yang paling sulit yang juga dipertandingkan dalam Olimpiade, adapun gerakan seperti Piaffe, dimana kuda memberi kesan seolah ia berjalan di tempat, dan Passage, yaitu trot dengan langkah yang lebih diayun, dengan “suspensi” dan  ke atas.
 
Dalam tes Freestyle to Music penunggang dapat menentukan sendiri lagu, koreografi dan urutan gerakan yang wajib diperlihatkan. Dalam Freestyle tersebut yang dinilai adalah kemampuan teknis dan pertunjukan yang artistik. Dalam bagian artistik juga sangat penting agar kuda dapat melakukan semua gerakannya seiring dengan irama musik.

 

Inilah cara judge Mrs.Clem Kelly (AUS) mendefinisi tunggang serasi:

Dressage adalah cabang olahraga olimpik – dan merupakan dasar dari semua nomor ketangkasan berkuda.

Selain menjadi olahraga yang sangat kompetitif, dressage juga merupakan kesenian. Yang dilihat adalah keindahan dan keanggunan seekor kuda yang atletis, lentur dan luwes yang bergerak sesuai dengan pertolongan yang sangat halus dari penunggangnya. Ia melakukan serangkaian gerakan yang diberikan nilai antara 0-10, mirip dengan olahraga senam lantai/ gymnastics. Dengan peningkatan kemampuan kuda yang  dicapai dalam waktu berberapa tahun, keselarasan dalam keserasian dan kepercayaan total didapatkan diantara kombinasi kuda-penunggang. Test dressage tingkat tinggi mengandalkan kesenian para master dressage klasik dengan tujuan akhir –  kesempurnaan total.

 

Menuju kesempurnaan dalam dressage harus melalui perjalanan yang sulit dan membutuhkan waktu berjam-jam penuh kesabaran selama bertahun-tahun. Pelatih/ penunggang harus mahir dalam ajaran kesenian dressage klasik dan kudanya pun harus memiliki bentuk fisik, cara bergerak dan kepribadian yang sesuai. Pelatih kuda/ penunggang juga harus dibekali oleh predeposisi psikologis yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan akhir yang menjadikan dressage sebuah kesenian: Grand Prix de Dressage.

Tidak cukup bahwa si penunggang harus memiliki kemahiran dan kudanya berbakat, mereka harus benar-benar menjadi sebuah kesatuan. Hubungan yang harmonis diantara kuda dan penunggang sangat tergantung dari kekuatan perasaan/ intuisi si penunggang dan kondisi mental kuda, hingga kiranya suatu tingkatan keselarasan yang mendekati kesempurnaan dapat tercapai.

Perkembangan Olahraga Berkuda di Indonesia

Sejarah singkat

Di Indonesia peranan kuda sampai meningkat untuk keperluan olahraga, tidak banyak berbeda dengan negara-negara lain. Tetapi peranan kuda di Indonesia lebih dekat dengan masyarakat petani, dari pada keluarga Raja. Dahulunya oleh para petani, kuda disamping untuk keperluan angkutan, juga untuk menarik bajak di sawah, disamping kerbau di beberapa daerah.

Sedang cikal bakal olahraga ketangkasan berkuda di Indonesia berawal dari menunggang kuda sambil berburu di hutan-hutan. Kesenangan berburu dengan menunggang kuda ini masih banyak ditemukan di daerah Nusa Tenggara Barat dan Timur. Di pulau Jawa, kuda di abad 16 sebelumnya menjadi simbol kemegahan para Raja dan dipergunakan untuk peperangan, yang pada gilirannya dijadikan untuk olahraga sebagai tontonan. Pada zaman Belanda, olahraga berkuda dikenal rakyat melalui pacuan kuda, yang dilakukan pada hari-hari pasar atau ulang tahun Ratu Belanda. Hampir setiap daerah menjadi pusat kegiatan pacuan kuda, dan dari situlah tumbuh peternakan tradisional, yang melahirkan kuda-kuda pacu lokal, yang dikenal dengan kuda Batak, kuda Padang Mangatas, kuda Priangan, kuda Sumba, kuda Minahasa dan kuda Sandel. Daerah-daerah yang dikenal mempunyai ternak-ternak kuda tradisional adalah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara. Lomba ketangkasan berkuda mulai dikenal melalui serdadu-serdadu Belanda dengan lomba lompat rintangan (Jumping). Salah satu pusat kavaleri berkuda waktu itu terletak di kota Cimahi, 10 km dari Bandung ke arah barat.

Pada zaman Belanda, organisasi olahraga kuda pacu sudah terbentuk, sesuai dengan perkembangan fasilitas gelanggang pacuan di daerah-daerah. Perkumpulan yang tereknal pada waktu itu, adalah : Bataviase en Buitenzorgse Wedloop Sociteit (BBWS), Minahasa Wedloop Societeit (MWS), Preanger Wedloop Sociteit (PWS). Setelah kemerdekaan, maka di tahun 1950 di beberapa daerah yang sebelum perang Dunia II ada perkumpulan kuda pacu, mulai menata kembali perkumpulan-perkumpulannya. Seperti di Bogor dengan Perkumpulan Pacuan Kuda Jakarta-Bogor (PPKDB) dan Perkumpulan Pacuan Kuda Priangan (PPKP) dan lain-lainnya.

Di tahun 1953 didirikan suatu badan yang berusaha menyatukan semua perkumpulan olahraga berkuda di Indonesia, diberi nama Pusat Organisasi PONI Seluruh Indonesia (POPSI) dengan ketuanya Letkol. Singgih. Tetapi POPSI dalam perkembangannya, malahan surut dan menjadi federasi-federasi, yang akhirnya hilang begitu saja. Kemudian pada tahun 1966, berdirilah organisasi berkuda yang merupakan satu-satunya yang telah diakui oleh KONI Pusat, yaitu : Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PORDASI). PORDASI dibentuk atas prakarsa empat daerah, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara dan satu klub SEKARDIU yang dibentuk corps Kavaleri Bandung. Sebagai Ketua Umum pertama adalah Achmad Syam dari Bogor, PORDASI diakui oleh pemerintah sebagai satu-satunya organisasi Induk berkuda di Indonesia, dengan Surat Keputusan Direktur Jenderal Olahraga tanggal 28 Oktober 1966, nomor : 016/tahun 1966. Sejak itu PORDASI selalu aktif menyelenggarakan perlombaan-perlombaan, baik dalam lomba pacuan kuda maupun lomba ketangkasan berkuda.

Partisipasi Dalam Kompetisi

Selama ini ECI-PORDASI telah mengikuti beberapa kegiatan kompetisi, baik yang internasional maupun tingkat nasional. Di internasional turut terjun dalam Asian Games, SEA Games, ASEAN, FEI World Challenge dan sebagainya. Sedang tingkat nasional turut serta dalam Pekan Olahraga Nasional (PON). Walaupun di tingkat internasional, Indonesia belum begitu banyak berbicara, tetapi keikutsertaan PORDASI di arena Internasional, merupakan modal utama bagi perkembangan dan peningkatan prestasi olahraga berkuda Indonesia.

Saat ini Komisi Equestrian Indonesia ECI – PORDASI diakui sebagai federasi nasional olahraga berkuda equestrian.

(Sumber: http://www.equestrian-indonesia.org)

  • Calendar

    • October 2017
      M T W T F S S
      « Jun    
       1
      2345678
      9101112131415
      16171819202122
      23242526272829
      3031  
  • Search