KESUKSESAN INI ADALAH KEBANGGAAN KITA BERSAMA

Lomba pacuan kuda yang baru pertama kali diadakan di Sragen, berakhir sukses. Hal ini diungkapkan oleh beberapa pemilik stable yang hadir untuk menyaksikan lomba ini di Lintasan Pacuan Kuda Nyi Ageng Serang Sargen, 8-10 Desember 2006 lalu. Selain menyedot animo masyarakat yang sedemikian besar, hingga jalan menuju lintasan sempat macet sejauh 5 km oleh antrian penonton, kesuksesan ini dapat juga dilihat dari banyaknya peserta yang mengikuti perlombaan.

Tak kurang dari 160 ekor kuda yang berlomba dalan 17 kelas selama event tiga hari tersebut. Mereka datang dari berbagai daerah di Jawa dan Bali. Pemerintah Kabupaten Sragen yang bekerjasama dengan Pengurus Daerah Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PORDASI) Propinsi Jawa Tengah juga dinilai sukses sebagai penyelenggara even akbar itu. Seperti yang diungkapkan Ir. Gatot Nugroho asal Yogyakarta. Menurutnya, dari beberapa lintasan serupa di Jawa Tengah, Sragen dinilainya paling bagus. Dari segi lintasan, penataan, manajemen pengelolaan, dan pemandangannya, Sragen punya nilai lebih, kata salah satu rombongan dari Stable Argomulyo itu ketika diwawancarai di sela-sela pelaksanaan lomba. Saya kagum dengan cara kerja panitia. Sungguh bukan hal yang mudah mengingat Sragen baru pertama kali mengadakan even seperti ini,tambahnya. Rapi, sistematis, dan profesional adalah kata yang tepat untuk menggambarkannya.

Acungan jempol juga diberikan oleh Ketua Komisi Pacuan Pengda PORDASI Jawa Tengah, Ir.H. Munawir, ketika acara beru saja berakhir. Olah raga berkuda adalah even yang menarik untuk disaksikan kapanpun juga. Sragen layak untuk mengadakan even-even seperti ini lagi diwaktu-waktu yang akan datang, katanya sambil tersenyum. Terus terang saya terkejut, 15 race di hari terakhir dapat terlaksana tepat waktu. Padahal penonton begitu berjubel, dan akses jalan masuk ke lintasan terbatas. Ini tak lepas dari kerja keras dan kekompakan penyelenggara, katanya. Drs. Hari Kuncoro, S.Sos,M.Si, ymt Kepala Kantor Pariwisata Investasi dan Promosi yang juga selaku sekretaris panitia lomba pacuan kuda Gubernur Cup 2006 mengatakan, kesuksesan ini adalah kebanggaan milik masyarakat Sragen. Kerja keras seluruh elemen yang terlibat kini telah menghasilkan buah yang manis. Setelah Sragen dikenal luas melalui prestasi di bidang Pelayanan Prima, kini namanya bertambah harum lagi melalui olah raga berkuda, katanya. Kelak, aset kabupaten berupa lapangan pacuan kuda ini akan terus dikembangkan lebih baik lagi.Meski sukses telah diraih, tak berarti kita lalu berpuas diri.

Berkaca pada pengalaman saat ini, kelak akan ada beberapa hal lagi yang perlu lebih ditingkatkan, katanya merendah. Mengacu pada arahan Bupati Sragen H Untung Wiyono, di kawasan Sumberlawang nantinya akan dikembangkan menjadi supermarket hewan 24 jam. Juga akan ada berbagai kegiatan olah raga berkuda seperti lintas alam/ hiking berkuda, sekolah berkuda, dan even pacuan kuda yang akan diadakan rutin secara berkala. Bagi pemilik kuda atau Stable yang ingin memanfaatkan areal tersebut, kami persilahkan. Di sana tersedia fasilitas istal dan homstay yang representatif,pungkasnya. Demikian Bag. Humas Setda Sragen memberitakan (Sragen News Online)

Advertisements

Larasati Iris Rischka Gading Gara-gara Kuda Tinggalkan Catwalk

larasati_gading_07.jpgWAJAH cantik Larasati Iris Rischka Gading, mantan model yang berkiprah di dunia berkuda, tersentak kaget menyaksikan karya Ugo Untoro bertajuk ’Poem of Blood’ di Galeri Nasional. Laras rupanya tak menduga bahwa karya-karya Ugo dalam pameran yang dibukanya itu, demikian memilukan. Yah maklum saja, sebagai pencinta kuda menyaksikan tragedi kehidupan kuda bahkan mati mengenaskan, terasa mengiris perasaannya, dan perutnya pun menjadi mules.

”Saya mencintai kuda, jadi menyaksikan karya-karya yang mengumbar kuda-kuda disiksa dan mati mengenaskan, rasanya bagaimana gitu,” ungkap wanita cantik ini. Kuda memang telah menjadi bagian hidup Laras sejak puluhan tahun lalu. Persisnya sejak kelas satu sekolah dasar, ibu tiga anak ini telah bersentuhan dengan kuda. ”Mungkin menurun dari buyut saya yang dari Jawa Tengah. Beliau kebetulan punya peternakan kuda. Namun mama lah yang mengenalkan saya dengan kuda. Mama saya sangat mencintai kuda,” tutur Laras saat berbincang dengan Tokoh pekan lalu.
Meski memiliki binatang peliharaan lain, namun Laras mengaku kuda memiliki tempat khusus di hatinya. Bisa jadi hal ini karena intensitas penanganan Laras terhadap kuda-kudanya demikian tinggi. Mulai melatih kuda, membersihkan, memeriksa kesehatan hingga pakan kuda, langsung ditanganinya. ”Kuda itu binatang sulit, tidak bisa dipelihara sambil lalu. Kita harus memperhatikannya, merawat dan memperhatikan makanannya. Semuanya terjadwal. Saya memang memiliki tenaga perawat kuda, tapi saya sendiri pun turun langsung,” tutur istri Ivan Gading ini. Keterlibatannya secara mendalam pada kuda-kudanya membuat ada ikatan emosional yang sulit dijelaskan antara dia dan kuda-kudanya. Maka tak heran ketika salah satu kuda kesayangannya, Nikolaus, mati karena sakit, Laras demikian terpukul. ”Rasa sedihnya luar biasa, saya sampai tak henti hentinya menangis. Bayangkan, tadinya Nikolaus sehat-sehat, tiba tiba dia sakit. Yang paling menyakitkan hati saat melihat Nikolaus berjuang di tengah sekarat. Saya berusaha memberinya semangat, tapi akhirnya Nikolaus tak mampu menahan sakit dan mati. Padahal kami sempat membawanya ke dokter dan ditangani di bagian gawat darurat,” papar Laras tentang kuda yang telah delapan tahun menemaninya. Bersama Nikolaus, Laras meraih berbagai prestasi di turnamen-turnamen berkuda, dalam dan luar negeri. Di antaranya menjuarai World Dressage Challenge Prix St. Georges, sebuah kompetisi berkuda internasional pada 2005 lalu.
Tak Punya Waktu
Kuda seolah telah menyita hampir sebagian besar waktunya. Sehingga boleh dibilang, Laras tidak punya waktu lagi untuk mengurus aktivitas lain selain keluarga dan kuda. Bahkan untuk dunia modeling yang membesarkannya pun Laras sudah tak punya waktu lagi. Sejak 1998, praktis Larasati telah mengurangi kegiatannya berlenggang lenggok di cat walk dan berkonsentrasi dalam olah raga berkuda. ”Sekarang permintaan naik pentas (cat walk) memang masih ada, tapi saya tak bisa kalau kembali sepenuhnya seperti dulu. Saya tak punya waktu lagi. Yah, sesekali saja saya masih mau, sekadar mengobati rasa rindu,” ujar wanita yang sempat membintangi sejumlah iklan ini.
Bicara tentang waktu, Laras menguraikan kalau hampir sebagian besar waktunya dihabiskan untuk urusan kuda. Mulai pagi pukul 06.00 hingga matahari terbenam. ”Pagi bangun tidur saya langsung ke kandang kuda, memeriksa segala sesuatunya, menggerak-gerakkan kuda. Saya juga melakukan latihan rutin. Meski tidak ada event, ini rutin saya lakukan. Setelah siang, saya ke kantor yang juga mengurusi kuda (peternakan hingga sekolah berkuda-red). Pokoknya, praktis hari-hari saya hanya untuk aktivitas yang berkaitan dengan kuda, sampai petang saya pulang ke rumah berkumpul dengan keluarga. Jadi memang saya tidak punya waktu lagi untuk aktivitas lain,” urai peraih medali perunggu SEA Games 2001. Bahkan saat libur, kalau tidak ada acara keluarga, dia pun menyambangi peternakan kudanya di Lembang. Atau pergi ke luar negeri untuk berlatih, khususnya dalam mempersiapkan diri menghadapi event-event internasional. ”Jadi rasanya untuk saat ini saya tidak mungkin memiliki kegiatan lain di luar kuda, sebab selain berlatih sendiri, juga menjadi pelatih serta mengurusi Gading Equestrian (semacam lembaga latihan ketangkasan berkuda-red). Saya juga punya tanggung jawab terhadap karyawan saya yang jumlahnya cukup banyak. Karena itu saya curahnya waktu saya sepenuhnya untuk urusana ini,” papar Laras yang memiliki 12 ekor kuda. Karena hobinya itu juga maka bisnis Laras pun tak jauh-jauh dari urusan berkaitan dengan kuda.
Bisnis Supplier Kuda
Sekarang ini dia bertindak sebagai supplier kuda. Jadi bagi mereka yang akan berlatih atau terjun dalam sebuah event, pihak Laras bertindak sebagai penyedia kuda. ”Usaha ini berawal dari kebutuhan sendiri yang dulu kadang mengalami kesulitan dalam pengadaan kuda. Kalau butuh kuda, kita suka minta supplier kirim, tapi kadang stok si supplier kosong. Akhirnya dari pada sulit terus menerus, saya pun berinisiatif menyediakan sendiri, sampai akhirnya kini berkembang menjadi 13 ekor yang sebagian di pelihara di Pulo Mas, Jakarta, dan Lembang, Bandung. Dalam perkembangannya, dari mulai memenuhi kebutuhan sendiri akhirnya berkembang menjadi bisnis supplier kuda seperti sekarang ini,” kata Laras yang tengah mempersiapkan diri untuk tampil dalam event kualifikasi berkuda SEA Games mendatang. Di usia 35 tahun sekarang ini, apa tidak merasa terlalu tua untuk terjun di event-event berkuda? Menjawab hal ini, Laras mengatakan, usia yang telah ’kepala 3’ tidak menjadi halangan bagi seorang atlet berkuda. Karena menjadi atlet berkuda, meski memang harus sehat, namun bukan berarti harus memiliki stamina yang tangguh. ”Kalau bertanding, yang justru kerja keras dan tangguh adalah kudanya. Sementara kita (atlet) yang dibutuhkan adalah ketrampilan teknik, sehingga bisa mengendalikan kuda,” tuturnya.
Seperti halnya sang ibu, Larasati pun sejak dini mengenalkan olah raga berkuda pada anak-anaknya. Dan ternyata ketiganya sangat berminat. Bahkan anak tertuanya, Alyssa Gading, telah berkali-kali menjadi juara beberapa event. ”Anak pertama sudah terjun di event, sedang anak kedua baru mulai berlatih, anak ketiga masih kecil tapi dia sudah menunjukkan kecintaannya pada kuda,” tuturnya.
Ngomong-ngomong, berkuda kerap diidentikan dengan olahraga mahal, apa benar begitu?
Menurut Laras, biaya menekuni hobi berkuda relatif. Harga kuda lokal antara Rp 2 juta hingga Rp 10 juta, sedang kuda impor atau yang sudah jadi, bisa mencapai ratusan juta rupiah. Namun ujarnya, seorang yang menekuni olah raga ini tidak harus memiliki kuda sendiri. Atlet nasional pun ada yang tak memiliki kuda, katanya. Selain harganya relatif mahal, memelihara kuda sendiri juga biayanya cukup tinggi, selain membutuhkan ketekunan tersendiri. Dari segi makanan berbeda, kalau kuda bertanding gizi harus diperhatikan, ungkapnya. —dia

Terapi Autis dengan Berkuda

TERNYATA olah raga berkuda bisa juga digunakan untuk terapi bagi penderita autis. Sebenarnya terapi berkuda untuk penderita autis bukan hal yang baru karena hal ini telah dilakukan di luar negeri.. Hal inipun diakui Larasati yang sempat lama tinggal di Jerman. Kebetulan, tuturnya, beberapa di antara murid-murid berkudanya ada yang menyandang autis. Maka ia pun mencoba menerapkan terapinya melalui interaksi si anak autis dengan kuda. Saya coba bukan dari segi olahraganya, tapi psikologisnya, interaksi dengan kuda, hewan yang menurut saya sangat peka, jelasnya pada Tokoh. Dikatakan Laras, salah satu yang perlu dipahami tentang kuda adalah interaksi awal antara kuda dan calon penumpangnya. Nah, salah satu masalah penyandang autis adalah kesulitan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Maka dengan melatih si anak berinteraksi dengan kuda, secara tidak langsung juga menerapi si anak. ”Pada awalnya si anak akan diajarkan untuk menyapa kuda dan mengelus badan kuda, baru anak menaiki sadel kuda,” jelasnya. ”Memang ini semua juga berpulang pada orangtua masing-masing. Biasanya untuk mendapat hasil maksimal, ya, harus sering berlatih. Dari pengalaman saya, sebagaimana yang diakui oleh para orangtua murid, ada kemajuan sikap si anak setelah kerap berlatih. Biasanya sih, perubahan sudah bisa terasa setelah satu kali berlatih,” tuturnya. Namun demikian Laras tidak bisa memastikan sampai berapa lama terapi tersebut harus dijalankan untuk mendapat hasil maksimal. ”Yah itu agak sulit ya, relatif sifatnya. Karena banyak faktor pendukung agar upaya terapi tersebut bisa berhasil. Salah satunya rutinitas serta dukungan orangtua,” tuturnya. (cybertokoh.com)

Adi Katompo

adi-kweb.gifKurniadi Mustopha by official name, Adi has been riding since the age of 6. He started out in Bala Turangga until the age of 13, then went on to Dwima Turangga for about 4 years until at about the age of 17 he moved to Trijaya Equestrian Centre. He now works as a professional at Falco Stables, next to finishing his studies.

Competing in the disciplines of Showjumping, Eventing and Dressage, Adi can count many achievements his own. Among others he participated in PON 1996, won the Junior SEA World Cup 1997and 1998, 2nd at the SEA World Cup 1999, winner of the FEI World Jumping Challenge and Novice Dressage Challenge Group VIII 2000, 2001FEI World Jumping Challenge Group VIII and uncounted victories and placings on national level, mainly in showjumping and eventing.

Adi and his mount Cidoal de Genetre are part of the SEA Games XXIII 2005 Team.

 

FEI World Dressage Challenge 2005

pgpsgweb.jpg FEI World Dressage Challenge 2005 Indonesia telah berlangsung tanggal 22.-24.November 2005 di fasilitas berkuda baru Kumala BEC yang pada kesempatan ini diresmikan oleh Ketua Umum KONI Bapak Agum Gumelar. Pertandingan diselenggarakan pada hari yang cerah dengan latar belakang pegunungan cantik di Cijangel, Lembang. Indonesia merupakan negara terakhir dalam Group VIII dan mendapatkan hasil yang cukup baik, dengan meraih juara individu Group VIII melalui Larasati Gading/ Nikolaus di Prix St.Georges, Endarjanto Bambang/ Cherenton Armani di Advanced Test dan Reshi Radinal/ Rainer dalam Children’s Test.
Selain pertandingan utama juga dilaksanakan kompetisi Preliminary. Hasil pertandingan lengkap tersedia untuk di download. Silahkan klik link diatas.

 

Directory of ECI Registered Stables (INDONESIA)

 

Adjani Stables

Contact: Otto Satyawan, Joko Susilo

Off:     

Jl.Taman Kemang 31a

Jakarta 12730

Tel.+62 21 7181721

Fax +62 21 7181719

e-mail: adjani@cbn.net.id

Dressage Showjumping Eventing Endurance Breeding
   

Notes:

 

Stables:

Jl.Manggis 8, Ciganjur,

Jakarta Selatan

Arthayasa Stables

Contact: Rafiq Radinal, Jeffry

Desa Limo, Blok Tengki

Depok 16152

Tel.+62 21 7547024/5

Fax +62 21 7547026

e-mail: arthastb@cbn.net.id

URL: www.arthayasa.com

Dressage Showjumping Eventing Endurance Breeding
 

Notes:

Competitions:

Mees Pierson Open

Limo Year End Competition (December)

 

Aswatama Equestrian

Contact: Lina Arto Hardy, Sianli Chandra

Off:

Jl.Oto Iskandardinata 18

Bandung 40171

Tel.+62 22 4200412

Fax +62 22 4236537

e-mail: artos@attglobal.net

Dressage Showjumping Eventing Endurance Breeding
   

Notes:

Stables:

Komplek Kandang Aswatama, c/o Sevkavkud Parongpong

Jl.Kolonel Masturi

Lembang 40599

Athena Maheswara Stables

Contact: Winson Pola, Monny P.

Gg.Duren RT 001/ 03, Parung Bingung

Depok

Tel.+62 21 7793462

Fax +62 21 77885128

e-mail: wibawa@cbn.net.id

Dressage Showjumping Eventing Endurance Breeding

Notes:

Bandung Equestrian Center (BEC)

Contact: Ronny Lukito, James Momongan

Villa Triniti I-1, Jl.Sersan Bajuri 88 km.4,7

Bandung 40152

Tel.+62 22 2787897

Fax +62 22 5400265

e-mail: bec-equestrian@bdg.centrin.net.id

            Lu_vas3@yahoo.com

Dressage Showjumping Eventing Endurance Breeding
 

Notes:

Bhirawa Stable & Equestrian

Contact: Bagus Bhirawa Putra

Off:

Jl.Terogong Raya 8, Cilandak Barat

Jakarta Selatan 12430

Tel.+62 21 7694216

Fax +62 21 7694216

e-mail: bhirawa_stables@yahoo.com

Dressage Showjumping Eventing Endurance Breeding
       

Notes:

 

Stables:

Jl.Palaraya 24, Pondok Cabe Udik, Pamulang

Tel. +62 21 7443419

Ciater Riung Rangga

Contact: Tinu Ananti Yani, Linda Ticoalu

Desa Cisaat, Kec.Jalan Cagak, Ciater

Subang – Jawa Barat

Tel.+62 260 470969

Fax +62 260 470957

Dressage Showjumping Eventing Endurance Breeding
   

Notes:

 

 

Dahlia Stables

Contact: Wiro Adji Wibowo

Jl.Dahlia 16

Depok Lama

Tel.+62 21 77205142

Fax +62 21 7520907

e-mail: wiro-adji.wibowo@db.com

Dressage Showjumping Eventing Endurance Breeding
     

Notes:

 

 

 

Falco Stable

Contact: Laksmono Susilo, Eugienne Hana Simanjuntak

Stables:

Jl.Pamulang Barat no.3, Pamulang

Ciputat 15417

Tel.+62 21 70751432

Fax +62 21 7244857

Dressage Showjumping Eventing Endurance Breeding
     

Notes:

Off:

Jl.H.Salim II/ 51, Radio Dalam

Jakarta 12420

Tel./ Fax +62 21 7244857

Jakarta Perkumpulan Equestrian Center (JPEC)

Contact: Cyndy Cross

Desa Pasir Maung, Babakan Madang

Citeureup, Bogor 16810

Tel.+62 21 87961569

Fax +62 21 87960635

e-mail: jpec_sentul@yahoo.com

Dressage Showjumping Eventing Endurance Breeding
   

Notes:

 

 

 

 

Matani Equestrian Centre (MEC)

Contact:

Jo’ann & Paul Batuna, Cartney Momuat

Stables:

Jl.Raya Tomohon,

Matani III/ Lingkungan II

Tomohon – Sulawesi Utara

Tel.+62 431 351627

Fax +62 431 351627

Dressage Showjumping Eventing Endurance Breeding

Notes:

Off:

Murex Dive Resort & Live Aboard

Jl.Raya Trans Sulawesi, Desa Kalasey I, Manado – Sulawesi Utara

Tel.+62 431 826091, 868513

Fax +62 431 826092

e-mail: info@murexdive.com

Pegasus Stable

Contact: Tri Putra Yusni Prawiro

Off:

Jl.TB Simatupang Kav.10 Lt.10

Jakarta Selatan

Tel.+62 21 7512035, -75, -45

Fax +62 21 7512036

e-mail: trigana@waipee.com

Dressage Showjumping Eventing Endurance Breeding
     

Notes:

 

Stables:

Jl.Raya Sukabumi km.17, Caringin

Bogor 16730

Porda Bala Turangga

Contact: Gutomo

Sevkavkud Parongpong

Jl.Kolonel Masturi

Lembang 40599

Tel.+62 22 27886681

Fax +62 22 

Dressage Showjumping Eventing Endurance Breeding

Notes:

 

 

 

 

Porda Pelita Jaya

Contact: Tenny Palandeng

Kompl.Pacuan Kuda Pulomas

Jl.Pulomas Jaya no.1

Jakarta Timur 13210

Tel.+62 21 47868239

Fax +62 21 4516158

Dressage Showjumping Eventing Endurance Breeding
     

Notes:

 

 

 

Santa Monica Stables

Contact: Alexander Benyamin, Monica Budiyanti

Jl.Guntur 27

Bogor 

Tel.+62 251 245444

Fax +62 251 322804

Dressage Showjumping Eventing Endurance Breeding
   

Notes:

Stables:

Santa Monica Resort, Pancawati, Ciawi

Bogor

Sidartha Stables

Contact: I Putu Gede Sidartha, Anto Binarto

Jl.Tukad Mati, Legian

Bali 80361

Tel.+62 361 754017

Fax +62 361 755904

e-mail: sidarth21@yahoo.com

Dressage Showjumping Eventing Endurance Breeding
   

Notes:

 

 

SKJP Riding School

Contact: Nico Pelealu, Ridwan Yuwono

Taman Kebon Jeruk Blok R 1/ 76-77

Jl.Meruya Ilir Raya

Jakarta Barat 11650

Tel.+62 22 9175051

Fax +62 22 5306615

Dressage Showjumping Eventing Endurance Breeding
     

Notes:

 

 

 

Trijaya Equestrian Center (TEC)

Contact: Ardi Hapsoro Hamidjojo,

IBG Punarbhawa, Adi Katompo

Jl.H.Montong 23, Ciganjur

Jakarta Selatan

Tel.+62 21 78880176, 7863063

Fax +62 21 7873652

Dressage Showjumping Eventing Endurance Breeding
 

Notes:

 

 

 

Yayasan Pamulang Equestrian Centre

Contact: Ibu Oetari Soehardjono,

Ir.T.Rasika Wiyarti

Jl.Pamulang Raya 3, Pamulang

Ciputat 15417

Tel.+62 21 7401669, 7401741

Fax +62 21 7403980

Dressage Showjumping Eventing Endurance Breeding
       

Notes:

 

Pony Club, Equestrian and Race Horse Breeding

 

 

Olahraga Berkuda untuk Pemula

Olahraga berkuda adalah olahraga yang ideal untuk dinikmati bersama dengan seluruh keluarga. Balita pun sudah dapat menikmati berkuda kalau ia menunggang kuda poni yang dituntun, dan mulai usia 5-6 tahun anak-anak sudah dapat belajar menunggang sendiri. Bagi remaja olahraga berkuda juga sangat menarik, dan dewasa sampai usia lanjut pun dapat menemukan kesenangan dengan mitra berkaki empat itu. Ada penunggang yang berkuda hanya sebagai hobby belaka, ada juga yang memiliki ambisi untuk berprestasi dalam olahraga yang sangat beraneka ragam ini. Bagaimanakah caranya menjadi penunggang kuda?

 

Biasanya, minat berkuda muncul ketika anak-anak masih berusia balita atau sewaktu SD. Kalau ada kesempatan berkuda, misalnya di tempat-tempat wisata seperti kebun binatang, daerah pegunungan dan lain-lain, anak-anak pasti ingin mencobanya. Anak-anak pada umumnya menikmati mainan yang bergerak dalam berbagai bentuk, sebut saja komedi putar atau ayunan. Tetapi dengan kuda, mereka juga berkesempatan untuk berinteraksi dengan hewan yang memberikan respons, dan sifat berani dan percaya diri si anak biasanya juga mendapatkan sambutan positif dari orang tua dan keluarga. Anak-anak memiliki bakat alam untuk menunggang karena lebih luwes dan lentur, cepat menyesuaikan diri dan dapat mengikuti ayunan kuda dengan mudah.

Minat berkuda bukan hanya timbul pada anak-anak, tetapi juga pada dewasa, walaupun dengan alasan yang berbeda. Yang sering terjadi adalah bahwa orang tua dari anak yang sedang belajar berkuda menjadi ikut tertarik, atau bahwa dewasa hanya ingin menjadikan impian masa kanak-kanak, merasakan freedom, power and grace, sebuah kenyataan.

 

Seperti setiap olahraga lainnya, berkuda memiliki faktor resiko. Oleh karena itu sangat dianjurkan untuk belajar teknik berkuda dengan benar, supaya dapat mengendalikan kuda dalam setiap situasi. Teknik yang baik dan benar juga memberikan kenyamanan yang lebih baik bagi penunggangnya dan menjadikan berkuda sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan.

 

Di berbagai daerah ada sarana atau sekolah-sekolah berkuda yang menyediakan fasilitas untuk belajar menunggang kuda. Saat ini pada federasi nasional tercatat sekitar 25 klub berkuda.

Sebagai info: sebaiknya jangan menghubungi sekolah berkuda pada hari Senin, karena untuk tempat berkuda di seluruh dunia hari Senin adalah hari libur!

 

Selain fasilitas lapangan yang sesuai standar, tentunya diperlukan kuda-kuda sekolah yang telah terlatih untuk ditunggang oleh pemula, dan juga pelatih yang berpengalaman.

Perlengkapan awal untuk penunggang adalah helm berkuda (bila perlu dipinjamkan pihak sekolah), celana panjang (kalau bisa jangan terlalu longgar karena mudah terjepit) dan sepatu dengan sedikit hak, sebaiknya setinggi mata kaki. Kalau ingin melanjutkan dan untuk kenyamanan penunggang, dianjurkan untuk memiliki helm, sarung tangan, celana dan boots berkuda.

Sebaiknya berlatih 2-3 kali per minggu. Selain belajar teknik menunggang, pemula juga diperkenalkan dengan horsemanship, yaitu bagaimana berinteraksi dengan kuda, cara merawat kuda dan pemasangan alat tunggang seperti pelana, kendali dan lain-lain.

Pada tahap awal belajar menunggang, pemula akan dilongser selama kira-kira 30 menit. Longser atau lunging adalah berlatih mengelilingi pelatih yang mengendalikan kuda dengan tali panjang sekitar 7 meter yang disambungkan ke bagian mulut (mouthpiece) kuda. Dengan cara itu, pemula dapat berkonsentrasi kepada dirinya sendiri dan tidak perlu risaukan kudanya.

Yang diajarkan pertama adalah cara duduk yang benar, menemukan keseimbangan badan dalam setiap cara gerak kuda (walk, trot, canter) dan bagaimana memberikan pertolongan kepada kuda untuk mengendalikannya. Pada prinsipnya, kuda digerakkan dengan betis dan dihentikan dengan kendali, tetapi cara duduk dan suara si penunggang juga dikategorikan sebagai pertolongan.

Tergantung bakat si penunggang, akan dilongser sebanyak kurang-lebih empat kali latihan, kemudian dilepas untuk latihan tanpa tali longser. Waktu latihan juga lebih lama, yaitu sekitar 45 menit. Kalau sudah dapat menemukan keseimbangan dan mengendalikan kuda dengan baik, pola latihan juga semakin intensif dan pada akhirnya penunggang dapat mengikuti pertandingan. Setelah beberapa waktu berlatih berkuda, terlihat ke mana bakat dan minat si penunggang mengarah. Penunggang yang senang berkuda secara tenang dan halus biasanya memilih Dressage, sementara yang lebih berani dan yang mencari action akan mengarah ke Showjumping. Yang senang berwisata biasanya memilih Endurance, dan yang punya bakat untuk berbagai nomor mengarah ke Eventing.

 

Walaupun tidak harus memiliki kuda sendiri, pada suatu saat seorang penunggang pasti mempertimbangkan ide itu. Menemukan kuda yang jodoh dengan penunggang dan dapat menunjang kegiatan berkudanya bukanlah hal yang begitu mudah. Memiliki seekor kuda juga merupakan sebuah tanggung jawab yang sangat besar!

 

Perjalanan seorang penunggang pemula hingga menjadi atlit hanyalah melalui prestasi yang diraihnya. Semakin baik prestasinya, semakin baik pula materi atau kuda yang dapat ditunggangnya.

Tanpa membedakan gender dan kalangan, dan apakah seorang penunggang memilih berkuda tetap sebagai amatir atau sebagai penunggang professional hingga pelatih, semua dapat berpartisipasi dan menikmati olahraga yang beraneka ragam ini. (Sumber – ECI)

 

 

Endurance

Endurance merupakan kompetisi melawan waktu untuk menguji kecepatan dan kemampuan ketahanan kuda, yang sekaligus diharapkan dapat menunjukkan pengetahuan si penunggang mengenai kecepatan dan penggunaan kudanya melalui lintas alam. Prestasi kuda yang ditunjukkan melalui berbagai macam permukaan dan halangan alam sangatlah penting untuk menentukan kepandaian berkuda si penunggang dan sikap kudanya sendiri.

 

Sebuah kompetisi terdiri dari berberapa tahap. Setelah setiap tahap (pada prinsipnya setiap 40 km), diadakan sebuah inspeksi kesehatan hewan yang diatur sebagai gerbang veteriner yang menuju kawasan pemberhentian yang diambil waktunya (waktunya terhitung dari saat detak jantung kuda menunjukkan 64 detak/ menit; sampai saat itu waktu dianggap sebagai waktu menunggang). Tahap-tahap endurance dapat berlangsung hingga dua hari atau lebih.

 

Perjalanannya tidak boleh mengandung lebih dari 10 persen permukaan jalanan keras. Bagian yang lebih sulit sebaiknya tidak terdapat di bagian akhir kompetisi.

 

Untuk kompetisi yang berlangsung lebih dari satu hari, rata-rata jarak minimum untuk pertandingan internasional biasa adalah 80 km dan dalam pertandingan resmi 100 km. Untuk kejuaraan satu hari, jaraknya biasanya 160 km dengan waktu tempuh sekitar sepuluh sampai duabelas jam.

 

 

Endurance race adalah semacam Pacuan Marathon Berkuda dimana seorang penunggang bersama seekor kuda menempuh jarak jauh (antara 20 km “Baby Race” sampai 160 km/ hari atau 2 hari à 100 km) dalam waktu sesingkat-singkatnya. Adapun titik pemberhentian yang ditentukan untuk minum (Water Point), inspeksi dan istirahat kuda. Peserta dibantu oleh tim pendukung atau Crew yang terdiri dari dua orang yang mengurusi kuda dan satu pengemudi kendaraan pendukung.

Yang penting adalah menjaga kondisi kuda agar ia dapat lulus pemeriksaan tim dokter hewan dimana detak jantung kuda tidak boleh melampaui 64 detak/ menit, kuda tidak boleh pincang, dehidrasi, anemia, kulit lecet/ sensitive dan kram atau kolik. Kuda yang menunjukkan tanda kelelahan dan kiranya kesehatannya terancam apabila ia melanjutkan pacuan, dieliminasi oleh tim veteriner dan keputusan mereka tidak dapat diganggu gugat.

Peserta yang menyelesaikan pacuan dalam waktu tersingkat dan dengan kuda berkondisi baik hingga 2 jam setelah pacuan berhenti dinyatakan menang. 

 

Endurance dinilai sangat cocok untuk masyarakat berkuda Indonesia karena beberapa faktor, antara lain: 

          relatif rendah biaya dan membutuhkan fasilitas minim

          kuda apa saja dapat mengikutinya asal sehat

          kuda Indonesia, terutama asal Padang sangat cocok untuk jenis olahraga ini yang menuntut ketahanan dan stamina kuda yang baik

          tidak memerlukan kuda bersilsilah, peralatan canggih atau mahal

          kemampuan ekuestrian tidaklah harus terlalu tinggi sehingga pemula segala umur pun dapat ikut serta asalkan ia dapat mengontrol   kuda

          kita berpeluang besar untuk mendapatkan tempat di peta berkuda internasional


Dengan bangga ECI dapat mengumumkan bahwa disiplin berkuda yang masih muda, yaitu Endurance telah diperkenalkan dan dipertandingkan di Indonesia. Pada tahun 2001 atau tepatnya beberapa bulan sebelum SEA Games XXI Kuala Lumpur, Winson Pola mempelajari bidang Endurance dan mewakili Indonesia bersama Surmin dan cadangan Yudi Irianto di ajang bergengsi tersebut. Yudi sempat memperdalami Endurance di Trijaya Jerudong Equestrian Center Brunei Darussalam, dan kecintaan Winson kepada Endurance ini telah membawanya ke mancanegara seperti Malaysia dan Uni Emirates Arab dimana ia dapat menjalin hubungan erat dengan para pakar dan penunggang-penunggang terbaik dunia.

Selain pengembangan penunggang, bidang ini juga memberikan kesempatan untuk pengembangan ofisial. Misalnya dokter hewan, dapat mengikuti FEI Endurance Vet Clinic dan kiranya menjadi ofisial yang sangatlah penting untuk Endurance.

  • Calendar

    • December 2017
      M T W T F S S
      « Jun    
       123
      45678910
      11121314151617
      18192021222324
      25262728293031
  • Search